STAIN

logo-stain-wrn/ush

HMJ USHULUDIN STAIN TULUNGAGUNG INFO

LAPORAN HASIL

KEGIATAN KONVENSI MAHASISWA ISLAM ASIA TENGGARA &

RAPAT KORDINASI NASIONAL FORUM MAHASISWA USHULUDDIN SE-INDONESIA

JAKARTA, 24-27 MARET 2009

  • REGISTRASI PESERTA

Hari : Selasa

Tanggal : 24 Maret 2009

Tempat : Syahida Inn UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Pukul : 09.00-23.00 WIB

  • DESKRIPSI

Sesuai ketentuan panitia Konvensi Mahasiswa Islam Asia Tenggara dan Rakornas Formadina bahwasannya setiap peserta diwajibkan untuk registrasi terlebih dahulu agar pemetaan dan pembagian akomodasi serta konsumsi bisa lebih efektif. Proses registrasi peserta dilaksanakan selama 1 (satu) hari full, dikarenakan ada beberapa peserta yang datang terlambat. Adapun jumlah peserta dalam negeri sebanyak 75 orang dari bebagai universitas, dan 15 orang dari luar negeri delegasi masing-masing negara ASEAN, serta tamu kehormatan dari negara Afrika Selatan (5 orang delegasi) & Timor Leste (7 orang delegasi). Sehingga jumlah total peserta sebanyak 102 orang.

Perincian Peserta Dalam Negeri

  1. IAIN AR-RANIRY ACEH : 3 orang

  2. IAIN SULTHAN AMAL GORONTALO : 4 orang

  3. IAIN RADEN INTAN LAMPUNG : 5 orang

  4. STAIN PALOPO : 2 orang

  5. STAIN PONOROGO : 4 orang

  6. STAIN BENGKULU : 3 orang

  7. UIN SULTHAN SYARIF QASIM RIAU : 5 orang

  8. IAIN MEDAN SUMUT : 3 orang

  9. IAIN WALISONGO SEMARANG : 4 orang

  10. STAIN TULUNG AGUNG : 3 orang

  11. STAIN CIREBON : 5 orang

  12. IAIN IMAM BONJOL PADANG : 8 orang

  13. STAIN KUDUS : 3 orang

  14. IAIN BANTEN : 3 orang

  15. IAIN JAMBI : 2 orang

  16. STAIN KEDIRI : 3 orang

  17. PTIQ JAKARTA : 3 orang

  18. IIQ JAKARTA : 3 orang

  19. UIN JAKARTA : 3 orang

  20. IAIN PALU : 3 orang

  21. STAIN SALATIGA : 3 orang

Perincian Peserta Luar Negeri

  1. THAILAND : 8 orang

  2. FILIPHINA : 4 orang

  3. MALAYSIA : 3 orang

  4. AFRIKA SELATAN : 5 orang

  5. TIMOR LESTE : 8 orang

  • OPENING CEREMONY / PEMBUKAAN

Hari : Rabu

Tanggal : 25 Maret 2009

Tempat : Syahida Inn UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Pukul : 09.00-10.00 WIB

  • DESKRIPSI

Kegiatan resmi Konvensi Mahasiswa Islam Asia Tenggara dan Rakornas Formadina diawali dengan opening ceremony / pembukaan. Adapun manual acara opening ceremony / pembukaan sebagai berikut:

  1. Pembacaan Ayat Suci Alqur’an yang dilantunkan oleh saudari Waqo’atin perwakilan dari Institut Ilmu Al-Qu’an (IIQ) Jakarta

  2. Sambutan Ketua Panitia yang disampaikan oleh saudara M. Abdul Idris Wahid perwakilan dari UIN Jakarta

  3. Sambutan Ketua Umum Formadina yang disampaikan oleh saudara Fery Cokroaminoto perwakilan dari pengurus pusat Formadina

  4. Sambutan pembina Formadina sekaligus pembukaan dan peresmian acara oleh Prof. Dr. Nasaruddin Umar, M.A

NOTULENSI

Opening Speaker : Prof. Dr. Nasarudddin Umar, M.A

Ada beberapa alasan Indonesia menjadi pusat peradaban Islam dunia. Pertama, wilayah strategis dengan jumlah penduduk Islam terbanyak di dunia. Kedua, negara maritim dengan sebagian besar masyarakatnya berada di pesisir. Negara-negara timur tengah berbeda dengan Indonesia, yang mempunyai negara kontinental dengan daerah teluk, sehingga memudahkan terjadinya konflik. Ketiga, Indonesia mempunyai landasan budaya dengan soft culture. Keempat, demokrasi yang dijalankan Indonesia. Amerika sebagai negara demokrasi hanya mempunyai dua partai dalam pemilu, indonesia dengan pemilihan secara langsung mengindikasikan demokrasi yang dijalankan merupakan keterwakilan sebagai negara dengan sistem demokrasi yang sangat baik.

Pesan untuk FORMADINA: pertama, jangan lupakan spiritual hubungan kita kepada Allah. Allah akan selalu membantu disetiap perjumpaan kita kepada-Nya. Kedua, hormati orang yang lebih senior dan juga kepada orang tua kita. Ketiga, tingkatkan kretifitas dan aktifitas yang lebih bagus.

  • SARASEHAN SEHARI; RETHINGKING OF SOUTH-EAST ASIA ISLAMIC TOWARD WORLD PEACE

Hari : Rabu

Tanggal : 25 Maret 2009

Tempat : Syahida Inn UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Pukul : 10.00-12.30 WIB

  • DESKRIPSI

Sarasehan atau seminar dalam kegiatan ini merupakan satu formula awal bagaimana generasi muda yang ada di kampus atau universitas Islam mampu mengimplementasikan segenap jiwa raganya untuk memajukan bangsanya masing-masing dalam domain serta pemikiran yang progresif-visioner. Adapun hasil dari adanya sarasehan ini adalah sebagai berikut :

  • Mengkaji ulang bentuk-bentuk pergerakan yang dilakukan oleh setiap mahasiswa Islam di Asia Tenggara.

  • Sharing atas semua bentuk pergerakan global di setiap wilayah Asia Tenggara.

  • Pembentukan spirit kepada mahasiswa Islam di Asia tenggara untuk memajukan bangsanya melalui pendidikan yang ada di wilayahnya masing-masing.

Adapun pembicara yang mengisi kegiatan ini adalah

  1. Prof. Dr. Andi Faisal Bhakti,MA (Pengamat Kebudayaan Islam Asia Tenggara)

  2. Drs. Junus Satrio Atmodjo, M.Hum (Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebudayaan Departemen Budaya dan Pariwisata Republik Indonesia)

dan yang bertindak sebagai moderator dalam kegiatan ini adalah:

Fery Cokroaminoto (Ketua Umum Formadina)

NOTULENSI

Speaker 1: Prof. Dr. Andi Faisal Bakti, MA (Pengamat Kebudayaan Islam Asia Tenggara)

Ada beberapa di wilayah di ASEAN yang mempunyai satu komunitas Islam, seperti di Thailand ada wilayah Pattani yang merupakan pemegang dan penganut Islam terbesar di Thailand. Islam maknanya: stability, unity, and security. Dalam konteks ini, saya akan mendefinisikan secara faktual yang pertama, negara harus mempunyai, keseimbangan (stability) dalam peradaban dan kebudayaan hal ini berarti bahwasanya islam memiliki nilai-nilai keseimbangan dalam sebuah kehidupan riil untuk pemeluknya. Kedua, Islam sebagai agama rahmatan lil alamin memiliki pola pikir, cara pandang akan sebuah kesatuan (unity). Walaupun negara Indonesia bukan negara yang berasaskan Islam, namun memiliki komitmen membentuk satu kesatuan republik Indonesia yang sering kita dengar, yakni NKRI. Ketiga, pemaknaan yang terakhir ini cenderung dengan pandangan kemiliteran, yakni keamanan atau perlindungan. Tetapi saya lebih suka memaknainya dengan jaminan. Karena kata yang terakhir inilah yang membuat kehidupan saya dan keluarga merasa nyaman, kenapa? Karena mendapat jaminan hidup tenang oleh negara, buktinya antara saya dan keluarga secara kultur sudah berbeda. Saya Indonesia, sementara istri saya dari luar negeri. Dari sinilah kemudian bisa saya aplikasikan dan artikan bahwasanya sebagai negara yang mayoritas Islam kita perlu saling menghormati antara budaya orang dengan budaya kita. Sehingga titik temu dari pemaknaan Islam tadi adalah sebuah perdamaian dunia.

Speaker 2: Drs. Junus Satrio Atmodjo, M.Hum (Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebudayaan Departemen Budaya dan Pariwisata Republik Indonesia)

Indonesia memegang peranan dunia selama 350 tahun. Indonesia mempunyai pengalaman dunia, salah satunya adalah negara non-blok. Non-blok ini murni digagas oleh Indonesia bersama dengan Yugoslavia. Indonesia adalah negara yang paling toleran. Banyak orang yang tidak mengetahui secara detail negara Indonesia, ada hal-hal yang tidak seimbang terkait penyampaian Islam Indonesia terhadap dunia. Hargailah perbedaan, karena perbedaan itulah yang menjadi asas pengetahuan. Bagaimana Islam menanggapi globalisasi. Pertama, adalah kesabaran, untuk memberikan kesempatan mengetahui perubahan. Kedua, Teliti, apa dan bagaimana terjadi perubahan. Ketiga, Cerdas, Islam menghargai pengetahuan. Keempat, Ajaktif, Indonesia mempunyai peranan penting dalam keberadaaan Laos, Vietnam, dan Timor Leste untuk menjadi bagian dari wilayah ASEAN. Sebagai seorang muslim yang hidup dalam birokrasi yang sarat dengan nilai-nilai toleransi, dalam hal ini adalah departemen kebudayaan, saya selalu menekankan bahwasanya Life stile adalah kebudayaan. Dalam suatu ketika saya berkunjung ke sebuah negara (Kenya) dimana bentuk Islam memang sedikit dan bisa dikatakan sebagai minoritas muslim, saya tetap mendapatkan seperti yang dikatakan pak Andi Faisal Bakti yakni jaminan hidup. Mulai dari bangun tidur, hingga aktivitas saya sebagai seorang muslim selama disana selalu merasakan indahnya toleransi dan menghargai akan budaya masing-masing. Dari sini dapat kita pahami, bahwasannya perbedaan budaya, kulit, ras, dan semua yang terkait dengan pola hidup orang banyak adalah sebagai bentuk perwujudan kekuasaan Allah sebagai pencipta alam semesta sehingga pada dasarnya, kita dikaruniai rahmat yang luar biasa kalau seandainya kita bisa memaknainya.

Sesi Tanya-Jawab

Arfan Nusi dari IAIN Gorontalo:

Saya pesimis Indonesia menjadi negara power, bagaimana pola komunikasi budaya yang tepat untuk memastikan paling tidak Indonesia mampu menjadi negara power?

Ayu Sumartini dari IAIN Lampung:

Sebagai seorang muslim saya akan bertanya kepada dua narasumber didepan tentang ada negara Islam yang tidak ada ketenangan, misalnya banyak sekali konflik seperti di Palestina?

Nurhayati dari UIN Jakarta:

Amerika menginginkan Indonesia menjadi mediasi dari dunia Islam. Mengapa demikian? Dan mohon penjelasan akulturasi antara budaya dan agama, bagaimana menyikapinya?

Saidee Chekoh dari Thailand:

Saya berharap komunikasi antara Indonesia dan Thailand menjadi penjembatan konflik militer dan sipil yang ada di negara saya Thailand. Yang saya tanyakan, kebudayaan dan komunikasi seperti apa yang mampu menjadikan Islam tetap menjadi agama rahmatan lil alamin terkait dengan kemajuan Islam sendiri dan perdamaian dunia khususnya negara saya Thailand.

Joao Hasan dari Timor Leste:

Saya masih teringat ketika detik-detik pemisahan antara Indonesia dan Timor Leste yang dulunya masih dalam kesatuan NKRI. Yang saya tanyakan adalah, apakah konsep pemisahan ini atas Islam, budaya atau politik yang terkait dengan kekuasaan?

Andi Faisal Bakti: Indikator Islam asia tenggara menjadi sentral, adalah pertama, bahasa Melayu yang digunakan dan termasuk urutan keempat dari bahasa dunia. Bahasa adalah identitas sebagaimana dalam Q.S Al-Hujurat 13. Kedua, elemen-elemen agama. Ketiga, budaya yang heterogen. Tantangan Indonesia ke depan adalah persatuan. Kerajaan menjadi salah satu alasan. Masyarakat Amerika sangat santun dan manusia yang masuk ke Amerika akan dimanusiakan. Namun Foreign Policy Amerika yang bermasalah. Belajarlah dari sejarah. Sebetulnya dunia Melayu dikapling dengan dunia penjajahan. Konflik di Indonesia sangat rentan. Konfik Di aceh adalah karena menginginkan adanya penghargaan terhadap budaya, bukan karena faktor agama. Selain itu juga, pola komunikasi yang tepat untuk menyamakan visi Islam sebagai agama rahmatan lil alamin adalah toleransi antara umat beragama. Sebenarnya toleransi bukanlah an sich agama. Namun budaya dan pola hidup adalah penting untuk kita berbuat toleransi dengan siapapun. Ketika saya melanjutkan studi di Amerika, saya merasa sendiri, dalam konteks agama misalnya, kebetulan satu kamar saya adalah Protestan, sebagian lagi penganut agama Konghucu. Namun kami disana selama studi tidak pernah merasakan konflik, yang ada hanyalah perdamaian, saling tolong menolong dan toleransi antar sesama. Hal-hal demikian inilah yang terpenting untuk kita semua dan harus kita jalani, karena hanya dengan menghargai sesama antar umat beragama, konflik yang ada di Thailand, Palestina, Amerika dan negara-negara di Timur Tengah dapat diminimalisir dan kalau bisa hilang begitu saja dengan datangnya konsep komunikasi yang baik.

Junus SA : Mungkin Pak Andi lebih fasih kalau menjelaskan tentang seluk beluk dan kondisii Islam di ASEAN. Tetapi saya, mencoba memberikan diskripsi melalui perspektif kebudayaan. Di Ambon ada tradisi Pelar dan gandom, tradisi keakraban yang melepaskan semua hal yang melingkupinya, seperti agama dan etnis. Konfilk di Ambon adalah permasalahan mengenai penguatan Sumber Daya Alam (SDA). Konflik antara Israel dan Palestina bukan permasalahan agama antara Yahudi dan Kristen, karena di Palestina ada pemeluk agama selain agama Kristen dan Protestan yang masuk dalam kabinet. Yang menjadi masalah adalah tanah. Merawat kebudayaan tidak bisa oleh pemerintah. Keberlangsungan budaya terletak pada masyarakat dan kita sendiri yang memelihara kebudayaan kita masing-masing. Perbedaan-perbedaan yang ada adalah budaya, dan semua perbedaan itu adalah kebudayaan. Untuk menjadikan Indonesia pada khususnya dan Islam pada umumnya dalam menghadapi tantangan global adalah sosialisasi bagaimana peradaban negara ASEAN adalah bentuk kebudayaan yang toleran. Hal ini bisa kita sinkronkan dengan beberapa program pemerintah terkait dengan perdamaian dunia. Misalnya, di departemen saya memiliki ikon Visit Indonesia 2009. Program ini merupakan bentuk cinta kita kepada sesama agama dan memiliki sikap toleransi yang tinggi terhadap peradaban dunia. Selain itu dengan adanya program ini, manfaat secara lokal adalah Indonesia mengedepankan semangat persatuan dan kesatuan demi utuhnya NKRI yang sudah saya paparkan tadi. Sebagai akademisi dan birokrat, saya berharap anda semua mampu memahami dan memiliki sikap toleransi antar budaya dan agama sehingga acara ini dapat merumuskan formula perdamaian yang ada di Asia Tenggara dan umumnya untuk perdamaian dunia.

  • PERKENALAN (TA’ARUF) DAN KONVENSI MAHASISWA ISLAM ASIA TENGGARA

Hari : Rabu

Tanggal : 25 Maret 2009

Tempat : Syahida Inn UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Pukul : 13.30-17.00 WIB

  • DESKRIPSI

Dalam sesi ini, peserta melaksanakan kegiatan perkenalan dan brainstorming dengan tujuan menjalin erat tali silaturahim antara peserta dalam negeri dan luar negeri serta mencoba menggali dan mengkaji segala bentuk formula baru terkait dengan deradikalisasi Islam dan segala bentuk ekstrimisme yang ada di kampus / universitas masing-masing negara.

Kegiatan perkenalan dan brainstorming ini dipimpin oleh panitia inti Konvensi Mahasiswa Islam Asia Tenggara dan Rakornas Formadina yakni:

  1. Saudara Jaja Zarkasyi

  2. Saudara Aminudin Syarif

  3. Saudara Irfan Hasanudin

CONVENTION

CONVENTION OF SOUTH-EAST ASIA ISLAMIC STUDENT

And INDONESIAN THEOLOGICAL STUDENT FORUM (FORMADINA)

RETHINGKING OF SOUTH-EAST ASIA ISLAMIC TOWARD WORLD PEACE”

Perkenalan / Ta’aruf

Panitia: Feri Cokroaminoto (S2 Universitas Indonesia Jakarta). Ahmad Syamsudin, Jaja Zarkasyi (S2 PTIQ Jakarta). Irfan Hasanudin (S2 UIN Jakarta). Derfi Rosyadi, Aminudin Syarif, M. Abdul Idris Wahid, Andi Mulawarman Wibowo, Nawwalin Ni’mah, Bukhori, Muamar , Dedy Chandra, Yudha Bakti, Fajar, Sutan Utama, Jody Pamungkas, Adi Jhonatan, Fauzi Ibrahim (UIN Syarif Hidayatullah Jakarta). Mubarok (PTIQ Jakarta) Uswatun Hasanah, Zulfa Fitria, Siti Rahayu (IIQ Jakarta).

Peserta:

THAILAND:

Hakeem Doha, Saidee Chekoh, Nureehah Wani, Soleehah Malasu, Suvaibah Sama, Khoirul Nur Syamsiyah Soleh, Mohammad Sobri Hayi Awae, Hassan Kaha.

FILIPHINA:

Malek Laesan, Soohaimee Jehseng, Aesoh Lanja, Mahade Siya.

MALAYSIA:

Salmi Yusoh, Mohammad Suhaib, Hazrin bin Hazrahan.

AFRIKA SELATAN:

Washfie Saal, Shiraaj Buziek, Mogammat ali Rhoda, Enur Hayati, Subgeyah Hendricks.

TIMOR LESTE:

Joao Hasan, Edy Mahmud, Muhammad Sidin, Tuty Alawiyah, Alwiah Binti Aly, Syarif Hidayatullah, Idris Benzoa, Mohammad Syahrir.

NANGROE ACEH DARUSSALAM: IAIN AR-RANIRY

Miswar, Rahman Akhyar Al-Achie, Taryono Hamid Az-Zhawi

TULUNGANGUNG-JAWA TIMUR: STAIN TULUNGAGUNG

Ahmad Ngimron Najjamudin, Imam Nabawi, Andi Taufiq Hakim.

CIREBON-JAWA BARAT: STAIN CIREBON

Yusi Subhiyah, Moh. Uci Sanusi, M. Hasan Ma’arif, Ahmad Taufiq, Ibnu Farhan.

DKI JAKARTA: INSTITUT ILMU AL-QUR’AN (IIQ)

Ulya Izzati, Isnawati Intan, Marta Kumalasari.

BENGKULU: IAIN BENGKULU

Badarudin Nurhab, Anton

GORONTALO: IAIN SULTAN AMAL

Herman A. Hasan, Risna Saripi, Arfan Nusi, Selfiati Paudi

PEKANBARU-RIAU: UIN SULTHAN SYARIF QOSIM

Eddy Willy, Abdul Malik Al-Munir, Eni Satriah, Eni Satriah, Masriadi.

PALOPO-SULAWESI SELATAN: STAIN PALOPO

Dody Ilham, Sabri JH

SERANG-BANTEN: IAIN SULTAN MAULANA HASANUDDIN

Wahyudi, Ahmad Syaikhu, Asep Saefurrohman.

KUDUS-JAWA TENGAH: STAIN KUDUS

Magfiroh, Irfan M. Hussein, Muhammad Kharis, Amanah Desinta, Ahmad Hanif.

LAMPUNG: IAIN RADEN INTAN

Ayu Sumartini, Malasari AM, Topandi, Mashuri, Pramudya Anathur.

PONOROGO- JAWA TIMUR: STAIN PONOROGO

M. Mufid Syahlani, Dawam Multazamy R, Akrimi Matswah, Erma Millati Faizah.

KEDIRI-JAWA TIMUR: STAIN KEDIRI

M. Darwis Al-Qoisini, Abdul Mannan, Moh. Chablul Haq.

SEMARANG JAWA TENGAH: IAIN WALISONGO

Mohammad Nur Arifin, Kerwanto, Muhammad Ahnafudin, Umi Fatihatur Rohmah.

MEDAN-SUMATERA UTARA: IAIN SUMUT

Suwardiyamsyah, Imfi Safitri, Ulvia Nazmi

PADANG-SUMATERA BARAT: IAIN IMAM BONJOL

Ari Prima, Meki Novendra, Dede Juhanis, Muhammad Ali Al-Ghany, Romica Pahlawan, Afrizen, Budi Hartono, Afdhal Dinilhaq.

NOTULENSI

Bahan diskusi : – Deradikalisasi Islam di kampus dan Sosialisasinya.

– Pemahaman tentang bentuk radikalisasi dan ekstrimisme

– Pemetaan Islam sebagai agama rahmatan lil alamin di negara masing-masing peserta konvensi

  1. Prolog

  2. Sharing and Brainstorming

  3. Rekomendasi

  1. Prolog

Adanya banyak aliran sempalan, radikalisme sering menjadikan alasan terjadinya anarkisme. Peristiwa 1 juni 2008 menjadikan moment yang sangat buruk sekali terkait dengan radikalisme. Bagaimana kita membentuk pola komunikasi yang baik antar sesama agar tidak adanya radikalisasi di negara kita masing-masing.

  1. Sharing

Pemikiran-pemikiran kita memberikan kontribusi pada konsep dan tataran ini. Tentunya tidak akan adanya konsep ekstrimisme dan radikal terhadap perkembangan dunia Islam.

NANGROE ACEH DARUSSALAM (perwakilan IAIN Ar-Raniry):

IAIN ingin menjadi UIN. Prospek mahasiswa terutama ushuluddin. Dengan berubahnya IAIN menjadi UIN sangat kelihatan sekali, misalnya bentuk perubahan yang hanya bukan sekedar gedungnya yang megah akan tetapi lebih kepada pemikiran yang luar biasa. Hal ini terbukti dengan adanya beberapa pemikir dari UIN Jakarta, UIN Yoyakarta dan UIN-UIN lainya yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu. Konsep deradikalisasi juga harus dengan sesegara mungkin kita sosialisasikan. Masalah tehnis sosialisasi kita atur pada wilayah masing-masing, yang terpenting FORMADINA memiliki standar pengaturan atas sosialisasi konsep tersebut.

SUMATERA BARAT:

Memetakan liberalisasi di ushuluddin, dan mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap almamater. Hal ini penting karena adanya sebuah mis komunikasi dan mis kepercayaan terhadap pelaksana dan pemerhati pendidikan. Sehingga kalau saja semua unit ini memiliki satu visi yang sama, maka tidak menutup kemungkinan kita semua akan merasakan perdamaian tentunya di bidang pendidikan tinggi (kampus masing-masing).

RIAU:

Banyak orang-orang yang berbicara tentang Islam dan ritualism adalah bukan orang yang kompeten dalam bidangnya. Yang perlu dikembangkan adalah Islamic traditional scientis. Karena ketika kita sudah berbicara pada tataran mistis, maka yang terjadi kebanyakan adalah kemusyrikan. Hal ini juga yang akan menggangu bentuk komunikasi bangsa Indonesia khususnya Islam dalam mensosialisasikan perdamaian dunia. Harapan kami adalah kita semua paling tidak memiliki visi yang sama yakni berfikir bagaimana Islam tetap menjadi pusat peradaban dan penguasaan dunia. Dan yang terakhir adalah tujuan adanya forum ini adalah mulia, karena ingin memajukan Islam seperti dulu, karena saat ini Islam menurut kami masih dalam keadaan terpuruk. Terkait dengan deradikalisasi Islam belum teridentifikasi adanya radikalisme di kampus kami, karena ini berkaitan dengan kurikulum dan pemahaman dosen dan mahasiswa.

AFRIKA SELATAN:

Di negara kami tidak mempunyai referensi yang banyak untuk memahami Islam secara utuh, dengan berbagai persoalan itulah saya datang untuk belajar kepada kawan-kawan dan saudara kami yang ada di Indonesia ini. Dalam referensi yang digunakan hanya menggunakan satu buku, kemudian berbicara tentang Islam. Terkait dengan konsep deradikalisasi dan konstalasi politik yang ada pada setiap negara, kami meyakini bahwasannya Afsel sebagai negara yang Islamnya masih minim mampu memberikan contoh kepada agama dan peradaban lainya baik secara lisan maupun tulisan.

PALU-SULTENG:

Ada beberapa hal yang perlu diperkuat dalam merumuskan sebuah ide deradikalisasi dan menjauhkan konsep ekstrimisme serta radikal di kalangan kampus Islam dan Negara pada umumnya. Misalnya apakah perlu kita bentuk kurikulum tentang radikalisasi dll yang berkaitan dengan isu-isu perdamaian. Tetapi, pada hakikatnya kami sepakat kita semua yang duduk disini harus mensosialisasikan bahwa perdamaian dunia untuk mewujudkan nuansa Islam yang damai, sejahtera segera teraplikasikan.

SEMARANG-JAWA TENGAH:

Segala bentuk komunikasi yang dilakukan oleh umat muslim, kami yakin adalah yang terbaik. Begitu juga dengan adanya forum ini. Dengan adanya satu wadah seperti ini, kita berharap menemukan hal-hal baru dalam ranah pemikiran Islam yang aktual. Sehingga konsep-konsep mulai dari liberalisasi, deradikalisasi dll dapat betul-betul terwujud setelah kita keluar dari forum ini.

TIMOR LESTE:

Islam di Timur Leste adalah agama minoritas, sehingga sulit sekali kami mencoba membuat satu gebrakan terkait dengan perdamaian dunia. Tetapi dengan adanya perkumpulan ini, kita semua berharap dan khususnya kami dari negara Timor Leste dapat memastikan bahwasannya Islam tetap menjadi yang terdepan dalam segala hal.

MEDAN-SUMATERA UTARA:

Dalam kajian-kajian Islam kita sudah sering menemukan pemetaan konsep semacam ini. Namun sulit sekali menerapkan dan mengetahui dampak serta manfaatnya oleh karena kita semua tidak memiliki satu referensi yang memang bisa di unggulkan. Tetapi, kami dari IAIN Medan sepakat akan adanya sosialisasi konsep deradikalisasi Islam di kampus-kampus serta pencegahan sikap radikal dan ekstrimisme, guna mengedepankan sikap toleran dan menghargai antar sesama muslim.

KUDUS-JAWA TENGAH:

Mengkritisi pemikiran-pemikiran ulama salaf dan khalaf sangat di perlukan oleh karena kita semua secara alami dan bahkan tidak sadar sudah menggunakan ilmu-ilmu ulama salaf dan khalaf. Dengan demikian alangkah baiknya kita semua dalam sosialisasi nantinya, terkait dengan konsep deradikalisasi dan ekstrimisme bisa teraplikasikan sesuai akhlaq dan tingkah laku ulama’. Kami sebagai mahasiswa yang masih punya idealis sepakat akan mensosialisasikan beberapa rekomendasi nantinya dari hasil pertemuan ini.

MALAYSIA :

Segala sesuatu yang berkaitan dengan kekerasan, ketidaknyamanan dan bahkan kurangnya jaminan hidup khalayak umum perlu di sterilkan. Artinya adalah, kita semua berhak menentukan nasib dan kehidupan bangsanya masing-masing. Pemerintah tanpa rakyatnya yang mengerti akan sebuah kondisi riil, tidak akan pernah terjadi apa yang kemudian disebut sebagai perdamaian dunia. Untuk itulah, kami dari Malaysia sangat mendukung adanya forum dan bentuk pertemuan seperti ini. Pada dasarnya, kita semua yang hadir disini akan mensosialisasikan segala bentuk rekomendasi, acuan atau bentuk apapun yang sifatnya pemikiran konstruktif untuk memajukan peradaban Islam secara global.

FILIPHINA :

Negara kami adalah Negara yang sangat multikultural kalau berbicara agama. Walaupun Islam tidak dominan di Filiphina, namun keberadaan Islam disana sangat diperhitungkan baik secara politik, budaya maupun pola komunikasi antar sesama. Hal ini terbukti, salah satu cabinet pemerintahan sekarang, salah satu pejabatnya (menteri) adalah orang Islam. Toleransi sangat dibuka selebar-lebarnya di negara kami. Satu keistimewaan yang luar biasa bias hadir dalam forum yang sangat mulia ini, karena kami yakin forum ini akan melahirkan pola pikir yang terbuka dan saling menghargai antar umat beragama.

THAILAND:

Dalam beberapa dekade ini, Thailand yang merasa tidak pernah mendapat jajahan dari negara manapun, ternyata sangat menentukan pola komunikasi bangsa yang luar biasa. Tetapi pda faktanya, negara kami justru merasakan adanya sebuah terror dari dalam, artinya ada beberapa oknum yang sengaja ingin membuat kekacauan di Negara kami, Thailand. Ketika berbicara ekstrimisme dan radikalisasi, maka saya teringat akan sebuah peristiwa turunya kekuasaan PM Thaksin Shinawatra yang pada saat itu, muncul kekerasan dan kekacauan di seantero negeri Thailand. Hal semacam harusnya tidak akan pernah terjadi manakala setiap orang di Thailand menyadari pentingnya saling menghormati dan toleransi baik secara agama, budaya dan pelaksanaan norma-norma kehidupan secara normal.

  1. Rekomendasi:

  • Dialog internal umat beragama

  • Memberikan pengarahan tentang radikalisme dan liberalisme yang benar.

  • Sosialisasi konsep Deradikalisasi di setiap kampus masing-masing wilayah.

  • WISATA BUDAYA KE MONAS DAN TMII

Hari : Kamis

Tanggal : 26 Maret 2009

Tempat : Monumen Nasional (MONAS) & Taman Mini Indonesia Indah (TMII)

Pukul : 08.00-17.30 WIB

  • DESKRIPSI

Dalam melaksanakan kegiatan ini, panitia Konvensi Mahasiswa Islam Asia Tenggara dan Rakornas Formadina dibantu secara teknis (dalam hal pemanduan peserta) oleh agen travelling dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia.

Tujuan wisata budaya ini adalah:

  • Memperkuat tradisi silaturahim antar umat beragama, khususnya dalam sisi budaya.

  • Tranformasi pemikiran terhadap perkembangan Indonesia secara global.

  • Hiburan yang bersifat edukatif dan menunjukkan peradaban Indonesia yang memiliki kultur majemuk.

Adapun aktifitas yang dilaksanakan dalam kegiatan wisata budaya ini adalah sebagai berikut:

  1. Ke MONAS (mengelilingi area museum dan menyaksikan dokumentasi sejarah republik Indonesia)

  2. Ke TMII (Nonton film Kebudayaan di Theater Imax Keong Mas dengan judul film: Indonesia Manikam Nusantara, makan siang di Desa Wisata TMII, menikmati indahnya TMII dengan Sky Lift / kereta gantung, mengunjungi salah satu anjungan di sumatera dan terakhir mengunjungi Museum Bayt Al-Qur’an)

  • RAMAH TAMAH DAN HEARING / SHARING IDEA DENGAN PEMDA DKI JAKARTA, DEPDIKNAS RI, DAN DEPSOS RI

Hari : Kamis

Tanggal : 26 Maret 2009

Tempat : Aula Pertemuan Wisma Graha Wisata Ragunan Jakarta

Pukul : 19.00-21.30 WIB

  • DESKRIPSI

Dalam sesi kegiatan ini peserta melaksanakan hearing / sharing Idea sekaligus mendapat arahan dari para tokoh, terkait dengan kemajuan negara-negara ASEAN dan beberapa perkembangan kebudayaan di Indonesia pada khususnya dan ASEAN pada umumnya. Adapun tokoh-tokoh yang mengisi kegiatan tersebut adalah:

  1. Prof. Dr. Goenawan Sumodiningrat, P.hd (Staff Ahli Menteri Sosial Republik Indonesia)

  2. Dr. Mukhlas Yamani, MA (Direktur Ketenagaan Depdiknas Republik Indonesia)

  3. Drs. Sukamta, MA (Kepala Biro Pendidikan dan Pembinaan Mental Provinsi DKI Jakarta)

Speaker: Drs. Sukamta, MA

(Kepala Biro Pendidikan dan Pembinaan Mental Provinsi DKI Jakarta)

Ada 4 hal yang tidak bisa menjadi otonomi daerah, pertama adalah tempat-tempat yang menjadi kepemilikan untuk keseluruhan daerah. Kedua pertahanan, ketiga yustisi, dan keempat viskal yang berhubungan dengan kebijakan luar negeri. Keberagamaan di wilayah DKI memiliki konsep keberagaman. Ada beberapa hal yang menjadi kebijakan dalam pengelolaan ritual keagamaan: Pengelolaan haji, pengelolaan zakat. Menangani dan mengawasi infrastruktur. LPTQ, LDII,

Speaker: Dr. Mukhlas Yamani, MA

(Direktur Ketenagaan Depdiknas Republik Indonesia)

Kalau kita sedang dinegara-negara Barat, masyarakat Barat memberikan antusiasme dan berharap banyak kepada Muslim Asia Tenggara. Percaturan dunia dipengaruhi oleh perkembangan tehnologi, ilmu komunikasi. Perkembangan pemikiran dipengaruhi perkembangan Sumber Daya Manusia (SDM).

Speaker: Prof. Dr. Goenawan Sumodiningrat, P.hd

(Staff Ahli Menteri Sosial Republik Indonesia)

Re-infinting, dikelola kembali.

Realitas, membangun realiatas masyarakat dengan pendampingan, pengawasan, dan kasih sayang.

Rahmatan li ‘alamin: sejahtera dunia dan akhirat.

Menjaga untuk tidak menyakiti orang lain, dengan musyawarah dan mufakat.

KESAN DAN PESAN

THAILAND:

Senang dengan perkumpulan ini walaupun tidak mengetahui secara menyeluruh secara detail tentang tema yang diangkat.

TIMUR LESTE:

Ushuluuddin menjadi tempat perkembangan tentang Islam rahmatan lil ‘alamin, bukan hanya di lingkungan regional namum lebih pada Islam universal dalam dunia Islam

Founding Father FORMADINA:

Forum ini bukan hanya untuk kawan-kawan yang telah hadir di sini, kawan-kawan bisa sharing dan diskusi mengenai perkembangan-perkembangan Islam di dunia. Kehadiran kawan-kawan “tua” bukan untuk mengintervensi forum namun memberikan pengalaman-pengalaman yang telah dilakukan.

Acara-acara yang kita ikuti dari awal, setidaknya bisa dijadikan moment interaksi dan pengalaman antar generasi.

  • RAPAT KOORDINASI NASIONAL (RAKORNAS) FORMADINA

Hari : Kamis

Tanggal : 26 Maret 2009

Tempat : Aula Pertemuan Wisma Graha Wisata Ragunan Jakarta

Pukul : 22.00-24.00 WIB

  • DESKRIPSI

Dalam Pelaksanaan Rakornas Formadina ini, peserta menghasilkan beberapa pointer antara lain:

  1. Mensosialisasikan kebijakan luar negeri Indonesia kepada seluruh civitas akademik di seluruh UIN/IAIN/STAIN yang ada di berbagai pulau nusantara.

  2. Mensosialisasikan kepada seluruh civitas akademik di seluruh UIN/IAIN/STAIN yang ada di berbagai pulau nusantara, bahwasannya tidak ada pola komunikasi yang ekstrim dalam memutuskan berbagai hal / problem keagamaan di Indonesia dan negara ASEAN. Hal ini terkait dalam rangka mensosialisasikan konsep deradikalisasi Islam.

  3. Merumuskan tehnis Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Formadina dan menyetujui tempat rakernas, berada di daerah Palopo-Sulawesi (IAIN Palopo siap menjadi tuan rumah Rakernas Formadina)

  4. Merumuskan tehnis dan menyetujui tempat Konggres Formadina, berada di daerah Nangroe Aceh Darussalam (IAIN Ar-Raniry siap menjadi tuan rumah Konggres Formadina)

NOTULENSI

Forum Mahasiswa Ushuluddin Se-Indonesia disingkat FORMADINA, merupakan semangat baru di tengah-tengah kebuntuan, tentang keinginan besar atas semakin mandeknya “perhatian” terhadap isu-isu ke-Ushuluddin-an. Sejak dideklarasikan pada tahun 2005 di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Formadina sudah melangsungkan Kongres I pada tahun 2006 di Lampung, dan dilanjutkan dengan Kongres II pada November 2007 di Palu, Sulawesi Tengah. Harus diakui bahwa, organisasi ini masih membutuhkan perhatian lebih dari segenap punggawanya, utamanya kita semua yang diberikan amanah, untuk mengemban jabatan di masing-masing level kepengurusan. Pimpinan Pusat Formadina Periode 2007-2009, yang saat ini kami emban, memang mengakui bahwa disana-sini masih lemah dalam mengemban amanah tersebut. Tapi kekurangan yang ada, tentunya tidak membuat patah semangat untuk terus berpikir dan bertindak, dalam rangka memperkuat pondasi awal, di umur Formadina yang masih begitu muda. Tidak tersentralnya domisili Pengurus Pimpinan Pusat di ibukota negara Republik Indonesia, berimplikasi logis pada tidak kuatnya koordinasi antar sesama pengurus, walaupun di tengah zaman berteknologi tinggi seperti sekarang ini, hal itu masih bisa ditoleransi. Namun, biar bagaimanapun koordinasi face to face yang dimaksud, akan semakin memperkuat jalinan keberpengurusan kita. Bergantinya periodik kepengurusan di masing-masing daerah, yang tidak dibarengi dengan continuitas dari pengurus sebelumnya, juga masih menjadi kendala tersendiri. Masih lemahnya koordinasi antar Pimpinan Pusat dan Pimpinan Wilayah, adalah kendala teknis, yang juga perlu mendapatkan perhatian khusus. Hasil rekomendasi Kongres II Formadina di Palu, antara lain adalah Pimpinan Pusat melaksanakan Rapat Kerja Nasional, 6 bulan setelah pelaksanaan Kongres. Kondisi tekstual tersebut, ternyata tidak seiring dengan kondisi yang terjadi di lapangan. Program yang dimaksudkan dalam bentuk aktivitas pertemuan tidak melulu dimaknai secara tekstual, karena kondisi yang ada membutuhkan pertimbangan matang. Dari berbagai persoalan dan kendala di atas, tentunya masih banyak yang belum teruraikan. Hal-hal tersebut tentunya tidak saja membutuhkan semangat, tetapi membutuhkan “orang-orang yang optimis” dalam berpikir dan bertindak, tidak saja “berteriak” dari menara gading untuk menyampaikan kebenaran. Saya yakin kita semua tidak ingin membawa biduk organisasi ini ke jurang kehancuran, karena harga diri sebagai manusia adalah taruhanya, jika tidak “fakabbir arbaatan lii wafatihi”. mengambil apa yang dikatakan Arsitoteles, “Saya Berpikir Maka Saya Ada”. Kedepan, kami berpikir bahwa penataan kelembagaan Formadina harus terus berjalan dengan seksama, seiring dengan kemajuan dan tuntutan zaman. Daripada berdebat dan saling salah menyalahkan, alangkah baiknya energi yang kita miliki, digiring pada usaha untuk memajukan organisasi kita tercinta ini. Pimpinan Pusat, sebagai leading sektor mengakui masih banyaknya kelemahan disana-sini, yang perlu dibenahi. Hal ini, membutuhkan juga dukungan dan sinergi kerjasama antara berbagai elemen, yang ada di dalam wadah Formadina.

A. POTRET BANGSA

Pemilihan Umum secara langsung, sudah digelar. Hanya dengan hitungan hari, rakyat Indonesia dihadapkan pada pertaruhan arah bangsa, entah semakin baik ataukah semakin terpuruk. Pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, serta seluruh jajaran kabinetnya, haruslah diberikan apresiasi, atas kinerja yang cukup baik yang dilakukan dalam 5 tahun belakangan ini. Ada kemajuan yang cukup signifikan, dalam bidang pemberantasan korupsi, jika kita mencoba arif melihat dibandingkan dengan masa sebelumnya. Pemerintahan dibawah SBY, terkesan memiliki komitmen yang kuat, untuk membawa negeri ini memiliki “Clean Goverment and Clean Birocration”. Olehnya, kita melihat, banyak kasus-kasus korupsi yang terungkap, dengan begitu “sensasional”. Semakin berperanya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dibawah kepemimpinan Antasari Azhar, semakin memunculkan optimisme, bahwa jika terus dilanjutkan, maka tidak menutup kemungkinan, target tersebut bisa tercapai. Ditetapkanya alokasi anggaran pendidikan sebesar 20 persen, dari anggaran nasional juga tentunya merupakan prestasi yang cukup baik, setidaknya jika melihat dari Political Will, yang dilakukan oleh pemerintah. Dengan naiknya anggaran pendidikan, maka secara otomatis diharapkan, naik pula target pemenuhan infrastruktur pendidikan, mulai dari kesejahteraan tenaga pendidik, khusunya guru dan dosen, semakin baiknya sarana penunjang pendidikan, utamanya di daerah-daerah yang masih kurang dijangkau oleh perhatian pemerintah. Tidak dengan menggunakan istilah daerah tertinggal, yang terkesan adanya blok pembeda yang tidak adil, dalam perspektif nasionalisme. Kebebasan berskpresi, dalam koridor hukum yang dibuka seluas-luasnya saat ini. Membuat kita sebagai mahasiswa, dengan leluasa dapat “berteriak” dan menyerukan ketidakadilan yang selalu dirasakan rakyat bangsa. Dengan memilih turun ke jalan, dan “meninggalkan” sejenak rutinitas perkuliahan, adalah pilihan menjadi mahasiswa. Karena menjadi mahasiswa, adalah menjadi pejuang, yang selalu harus bersama rakyat, memperjuangkan hak mereka.

B. KONDISI OBJEKTIF FORMADINA

Pimpinan Pusat Formadina Periode 2007-2009, diakui masih banyak kekurangan. Berbagai kendala yang dihadapi, juga menjadi salah satu persoalan tersendiri. Kondisi geografis, tidak adanya Pengurus Pimpinan Pusat yang berdomisili di pusat pemerintahan kecuali Ketua Umum, timbulnya berbagai riak dari daerah yang menginginkan “perbaikan”, belum berjalannya secara maksimal seluruh jajaran kepengurusan, adalah segelintir persoalan yang harus membutuhkan penyelesaian secara baik dan terstruktur. Beberapa waktu berjalan roda organisasi ini, Pimpinan Pusat Formadina mengambil beberapa kesimpulan, bahwa sudah saatnya organisasi ini tidak hanya terfokus di areal kampus semata, padahal kecepatan perkembangan dinamika di luar areal kampus begitu cepat. Harus disadari bahwa, menemukan benang merah antara kondisi kekinian di dalam kampus, sebagai basis massa organisasi, dengan kondisi objektif di luar kampus haruslah berjalan beriringan. Dalam menjalankan roda kepemimpinan organisasi selama ini, Pimpinan Pusat Formadina memberikan apresiasi kepada khususnya keluarga besar Formadina UIN Ciputat Jakarta, teman-teman Pengurus Pimpinan Pusat lainya, yang masih semangat untuk berjuang bersama-sama, di tengah badai besar yang harus kita hadapi. Begitu banyak masukan dan saran serta rekomendasi yang diberikan oleh teman-teman peserta Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Formadina. Masukan tersebut menjadi masukan penting bagi Pengurus Pimpinan Pusat, utamanya soal pelaksanaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) dan Kongres III Formadina, yang akan dilaksanakan pada tahun 2009. Laporan ini, masih jauh dari kesempurnaan, olehnya masukan dan saran yang membangun masih sangat dibutuhkan, bagi perbaikan organisasi kita tercinta.

REKOMENDASI RAKORNAS FORMADINA

  1. Sosialisasi FORMADINA ke seluruh kampus di Indonesia dan AsiaTenggara.

  2. Menertibkan dan menyusun ulang AD/ART FORMADINA

  3. Membuat website formadina, yang menjadi koordinator adalah

DPP FORMADINA.

  1. Mengadakan kegiatan menggali bakat-bakat ilmu ke-ushuluddin

an (kitab kuning dll)

  1. Menampilkan program unggulan FORMADINA kemudian di

sosialisasikan.

  1. Perbaikan sistem kaderisasi

  2. Koordinasi antar region harus berjalan normal.

  3. Membuka email masing-masing di setiap region.

  4. STAIN Palopo menjadi tuan rumah Rakernas FORMADINA

  5. Rakernas harus dilaksanakan 2 bulan setelah rekomendasi ini dibuat.

  6. IAIN Ar-Raniry Banda Aceh menjadi tuan rumah Konggres FORMADINA.

  • INTERFAITH DIALOG DAN PENUTUPAN

Hari : Jum’at

Tanggal : 27 Maret 2009

Tempat : Aula Pertemuan Wisma Graha Wisata Ragunan Jakarta

Pukul : 09.30-11.00 WIB

  • DESKRIPSI

Acara ini adalah sebagai penghujung kegiatan Konvensi Mahasiswa Islam Asia Tenggara dan Rakornas Formadina. Dalam sesi acara ini, peserta melaksanakan kegiatan dialog dengan salah satu pihak birokrasi yang membidani kajian luar negeri. Hasil dari dialog ini adalah, peserta dapat mengerti tentang beberapa kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia terkait hubungan bilateral dengan beberapa negara di dunia khususnya negara ASEAN. Disamping itu, peserta mendapatkan pengarahan tentang bagaimana mendiskripsikan pola komunikasi luar negeri Republik Indonesia dengan negara-negara lain di dunia . Adapun yang mengisi kegiatan ini adalah:

  • Prof. Dr. Andri Haty, SH, MH, LML, P.hd

(Dirjen Diplomasi Publik Departemen Luar Negeri Republik Indonesia)

Beliau juga menutup secara resmi Konvensi Mahasiswa Islam Asia Tenggara dan Rapat Koordinasi Nasional Forum Mahasiswa Ushuludin Se-Indonesia (Rakornas Formadina).

Speaker : Prof. Dr. Andri Haty, SH, MH, LML, P.hd

(Dirjen Diplomasi Publik Departemen Luar Negeri Republik Indonesia)

Dalam konteks bahwa sejarah Islam 20 tahun yang lalu, Islam Indonesia memberikan konsep rahmatan lil ‘alamin. Bahwa ketika orang berbicara tentang Islam maka akan melihat Islam di Asia Tenggara, karena jumlah pemeluk dan pemikiran serta kajian keislaman telah berkembang.

Kita juga harus membalikkan pemikiran bahwa Islam tidak care terhadap demokrasi.

Hillary Clinton adalah orang yang jender oriented, she vsisited our official and saw in our ministry have three women’s dirjen. Deplu have 10 dirjen with compotition 30 % women and 70 % men. Dari sini dapat kita pahami bahwasannya, komunikasi yang baik adalah membentuk image negara kita menjadi yang terbaik. Manakala hal demikian sudah terlaksana, yang terjadi adalah bentuk persaingan sehat secara jujur, bersih tanpa konflik baik dari luar maupun dari dalam negeri..

Kenapa saya mengatakan image harus dibangun? Kerena, pada satu titik inilah kita semua akan memahami kontektual komunikasi yang terbangun antara negara satu dengan yang lainnya. Sebagai seorang Muslim, saya akan mengatakan bahwasannya menghormati sesama adalah perintah Sang Pencipta alam yakni Allah Swt. Karena sebagai seorang yang tadinya tidak mengetahui seluk beluk kehidupan nyata secara tidak langsung, kita dituntun oleh Allah ke dalam jalan yang benar. Itupun seandainya manusia tersebut mampu memaknai akan sebuah hakikat hidup. Begitu juga pola komunikasi yang akan dibangun oleh seseorang, harus juga mengetahui secara definitive dan hakikat komunikasi yang baik secara adat, agama, pemikiran dll. Sehingga nantinya sinergisitas antara satu dengan yang lainnya dapat seirama.

Pesan saya adalah: sebagai seorang pemuda harus kreatif, inovatif dan menjaga sopan santun serta melaksanakan norma-norma kehidupan secara normal. Dengan sendirinya akan terlihat sebagai sosok pemuda yang sukses.

Responses

  1. alo coy

    • halo… ki po ariful cah man 1

  2. mantep coy….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: