Posted by: Andi Taufiq | April 18, 2009

Psikologi

A. Karakteristik Perkembangan Emosi Remaja

Dimasa perkembangannya remaja sering memperhatikan keadaan tubuhnya yang mengalami proses perubahan. Sebagian remaja tidak terlalu memperhatikan pertumbuhannya tersebut tetapi ada pula yang selalu memperhatikan perubahan yang terjadi dan memikirkan normal tidaknya dirinya dibanding dengan teman sebayanya bila remaja merasa ketinggalan dari teman sebaya baik dalam pertumbuhan atau minat dan kegiatan lain akan muncul kekhawatiran apakah dirinya bisa menjadi dewasa. Bila remaja berpendapat bahwa dirinya tidak wajar, dan di tambah lagi dengan sikap orang-orang sekelilingnya yang kadang-kadang banyak menuntut, dan sebagainya, akan menjadi konsep diri negatif yang sulit dihilangkan dalam tahapan perkembangan berikutnya.

Salah satu dari beberapa konsekuensi masa remaja yang paling penting adalah pengaruh jangka panjang terhadap sikap, perilaku social, minat dan kepribadiaan. Bila sikap dan perilaku remaja kurang diterima oleh lingkungan dan dapat menghilang setelah keseimbangan perkembangan tercapai tidaklah menjadi masalah. Akan tetapi beberapa penelitian menemukan bahwa cirri kepribadian yang sudah berbentuk menjadi sulit dihilangkan. Sebagai contoh bagi laki-lakiyang mengalami kematangan seksual lebih awal secara social lebih menguntungkan bagi perkembangannya karena ia tumbuh lebih besar dari teman sebaya, lebih disegani dan sebagainya. Kekuatan dan ukuran tubuh yang melebihi teman sebaya akan meningkatkan citra dirinya diantara teman sebayanya. Tetapi tidak demikian dengan anak perempuan yang masa remajanya dating lebih awal. Kematangan awal yang terjadi pada anak perempuan sering menimbulkan rasa rendah diri karena akan muncul julukan atau sebutan yang kurang menyenangkan.

Perubahan sosial seperti adanya kecenderungan anak-anak pra-remaja untuk berperilaku sebagaimana yang ditunjukan remaja membuat mereka di masukkan dalam kategori remaja. Adanya peningkatan kecenderungan para remaja untuk melanjutkan sekolah atau mengikuti pelatihan kerja (magang) setamat SLTA, membuat individu yang berusia 19 hingga 22 tahun juga dimasukan dalam golongan remaja, dengan pertimbangan bahwa pembentukan identitas diri remaja masih terus berlangsung sepanjang rentang usia tersebut. Batasan remaja menurut usia kronologis, yaitu antara 13 hingga 18 tahun. Ada juga yang membatasi usia remaja antara 11 hingga 22 tahun.

Lebih lanjut Thornburgh membagi usia remaja menjadi tiga kelompok, yaitu:

a. Remaja awal : antara 11 hingga 13 tahun

b. Remaja pertengahan: antara 14 hingga 16 tahun

c. Remaja akhir: antara 17 hingga 19 tahun.

Ciri-ciri emosi remaja berusia 12-15 tahun.

1. Pada usia ini seorang anak cenderung banyak murung dan tidak dapat diterka

2. siswa mungkin bertingkah laku kasar untuk menutupi kekurangan dalam hal rasa percaya diri.

3. ledakan kemarahan mungkin biasa terjadi, hal ini seringkali terjadi sebagai akibat dari kombinasi ketegangan psikologis, ketidakstabilan biologis dan kelelahan karena bekerja terlalu keras atau pola makan yang tidak teratur.

4. seorang remaja cenderung tidak toleran terhadap orang lain dan membenarkan pendapatnya sendiri yang disebabkan kurangnya rasa percaya diri.

5. siswa-siwi SMP mulai mengamati orang tua dan guru-gurunya mereka secara lebih obyektif dan mungkin menjadi marah apabila mereka ditipu dengan gaya guru yang bersikap serba tahu.

Ciri-ciri emosi remaja berusia 15-18 tahun.

  1. pembrontakan remaja merupakan ekspresi dari perubahan yang universal dari masa kanak-kanak dewasa.
  2. karena bertambahnya kedewasaan mereka, banyak remaja yang mengalami konflik dengan orang tua mereka, karena mungkin mengharap simpati dan perhatian dari orang tua.
  3. siswa pada usia ini seringkali melamun, memikirkan masa depan mereka, dan banyak diantara mereka yang terlalu tinggi penafsirannya terhadap kemampuan mereka sendiri dan merasa berpeluang besar untuk memasuki pekerjaan dan memegang jabatan tertentu.

Ciri-ciri emosi remaja berusia 18-22 tahun.

  1. pandangan moral remaja menjadi abstrak yaitu perilaku remaja yang suka saling bernasihat sesama teman dan kesukaanya pada kata-kata mutiara;
  2. pandangan moral remaja sering terpusat pada apa yang benar dan apa yang salah. Keadilan pada masa ini sering muncul sebagai kekuatan moral yang dominan. Sehingga remaja sangat antusias pada usaha-usaha reformasi social;
  3. penilaian moral pada remaja semakin mendasarkan diri pada perkembangan kognitif, yang mendorong remaja mulai menganalisis etika sosial dan mengambil keputusan kritis terhadap berbagai masalah moral yang dihadapnya;
  4. penilaian moral yang dilakukan remaja menunjukkan perubahan yang bergerak, sehingga remaja senang sekali bila dilibatkan dalam kegiatan memperjuangkan nasib bersama, kesetiakawanan kelompok yang kadang-kadang untuk ini remaja bersedia berkorban fisik;
  5. penilaian moral secara psikis juga berkembang menjadi lebih mendalam yang dapat merupakan sumber emosi dan menimbulkan ketegangan-ketegangan psikologis;
  6. remaja mulai mampu menahan diri, untuk tidak melampiaskan emosinya didepan umum, remaja mulai berusaha mempertimbangkan baik buruknya akibat yang ditimbulkan, sampai dia menemukan cara yang tepat dan aman untuk melampiaskan kemarahannya tersebut;
  7. remaja mulai mampu menganalisis situasi dengan kritis, dapat memberikan penilaian terhadap peristiwa atau perlakuan negative yang diterimanya dengan mempertimbangkan apakah hal itu benar atau tidak;
  8. remaja juga menunjukkan suasana hati yang lebih stabil, dan mulai tenang. Pada masa remaja akhir anak sudah tidak mudah lagi untuk dipengaruhi bisikan teman atau meniru perilaku orang-orang disekitarnya, semuanya sudah mulai dipikirkan akibatnya;

Beberapa emosi yang secara normal dialami remaja adalah

a. Cinta dan kasih sayang

Faktor penting dalam kehidupan remaja dalam kapasitasnya untuk mencintai orang lain dan kebutuhannya untuk mendapatkan cinta dari orang lain. Kemampuan untuk menerima cinta sama pentingnya dengan kemampuan untuk memberi cinta.

b. Gembira

Rasa gembira akan dialami bila segala sesuatunya bisa berlangsung dengan baik dan jika ia diterima dalam masyarakat atau bila ia jatuh cinta dan cintanya mendapatkan sambutan.

c. Kemarahan dan Permusuhan

Kenyataannya perasaan marah berhubungan dengan usaha manusia untuk memiliki dirinya dan menjadi dirinya sendiri. Rasa marah ini berfungsi sebagai usaha individu untuk menjadi seorang pribadi sesuai dengan haknya.

d. Ketakutan dan kecemasan

Beberapa orang mengalami rasa takut secara berulang-ulang dengan kejadian dalam kehidupan sehari-hari atau karena mimpi atau karena pikiran mereka sendiri. Beberapa orang dapat mengalami rasa ketakutan ini sampai berhari-hari bahkan bermingu-minggu.

B. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan emosi remaja

Perkembangan emosi anak tergantung pada faktor kematangan dan faktor belajar. Reaksi emosional yang tidak muncul pada awal kehidupan tidak berarti tidak ada, reaksi tersebut mungkin akan muncul dikemudian hari. Masalah-masalah tersebut adalah :

  1. Masalah pribadi, yaitu masalah-masalah yang berhubungan dengan situasi dan kondisi di rumah, sekolah, kondisi fisik, penampilan, emosi, penyesuaian sosial, tugas dan nilai-nilai.
  2. Masalah khas remaja, yaitu masalah yang timbul akibat status yang tidak jelas pada remaja, seperti masalah pencapaian kemandirian, kesalah pahaman atau penilaian berdasarkan stereotip yang keliru, adanya hak-hak yang lebih besar dan lebih sedikit kewajiban dibebankan oleh orang tua.

Anak-anak masa kini mengalami banjir stres yang datang dari perubahan sosial yang cepat dan membingungkan serta harapan masyarakat yang menginginkan mereka melakukan peran dewasa sebelum mereka masak secara psikologis untuk menghadapinya. Tekanan-tekanan tersebut menimbulkan akibat seperti kegagalan di sekolah, penyalahgunaan obat-obatan, depresi dan bunuh diri, keluhan-keluhan somatik dan kesedihan yang kronis.

Lebih lanjut dikatakan bahwa masyarakat pada era teknologi maju dewasa ini membutuhkan orang yang sangat kompeten dan trampil untuk mengelola teknologi tersebut. Ketidakmampuan remaja mengikuti perkembangan teknologi yang demikian cepat dapat membuat mereka merasa gagal, malu, kehilangan harga diri, dan mengalami gangguan emosional.

Remaja masa kini dihadapkan pada lingkungan dimana segala sesuatu berubah sangat cepat. Mereka dibanjiri oleh informasi yang terlalu banyak dan terlalu cepat untuk diserap dan dimengerti. Semuanya terus bertumpuk hingga mencapai apa yang disebut information overload. Akibatnya timbul perasaan terasing, keputusasaan, absurditas, problem identitas dan masalah-masalah yang berhubungan dengan benturan budaya.

Uraian di atas memberikan gambaran betapa majemuknya masalah yang dialami remaja masa kini. Tekanan-tekanan sebagai akibat perkembangan fisiologis pada masa remaja, ditambah dengan tekanan akibat perubahan kondisi sosial budaya serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang demikian pesat seringkali mengakibatkan timbulnya masalah-masalah psikologis berupa gangguan penyesuaian diri atau ganguan perilaku.

Perkembangan pada remaja merupakan proses untuk mencapai kematangan dalam berbagai aspek sampai tercapainya tingkat kedewasaan. Proses ini adalah sebuah proses yang memperlihatkan hubungan erat antara perkembangan aspek fisik dengan psikis pada remaja. Perlu dicatat bahwa dalam kenyataan karena adanya berbagai sebab maka tidak semua orang dapat mencapai kematangan emosional secara sempurna, juga perlu dipahami bahwa kematangan dan kondisi emosi manusia bukan merupakan kondisi yang bersifat menetap. Tetapi merupakan proses panjang dan melalui irama yang seringkali naik turun dari waktu ke waktu.

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan emosi remaja dapat diklasifikasikan menjadi 3 yaitu :

Faktor Keluarga (Rumah Tangga)

Dalam berbagai penelitian yang telah dilakukan, dikemukakan bahwa anak / remaja yang dibesarkan dalam lingkungan sosial keluarga yang tidak baik / disharmoni keluarga, maka resiko anak untuk mengalami gangguan kepribadian menjadi berkepribadian antisosial dan berperilaku menyimpang lebih besar dibandingkan dengan anak / remaja yang dibesarkan dalam keluarga sehat/harmonis (sakinah).

Kriteria keluarga yang tidak sehat tersebut menurut para ahli, antara lain:

a. Keluarga tidak utuh (broken home by death, separation, divorce)

b. Kesibukan orangtua, ketidakberadaan dan ketidakbersamaan orang tua dan anak di rumah

c. Hubungan interpersonal antar anggota keluarga (ayah-ibu-anak) yang tidak baik (buruk)

d. Substitusi ungkapan kasih sayang orangtua kepada anak, dalam bentuk materi daripada kejiwaan (psikologis).

Selain daripada kondisi keluarga tersebut di atas, berikut adalah rincian kondisi keluarga yang merupakan sumber stres pada anak dan remaja, yaitu:

a. Hubungan buruk atau dingin antara ayah dan ibu

b. Terdapatnya gangguan fisik atau mental dalam keluarga

c. Cara pendidikan anak yang berbeda oleh kedua orangtua atau oleh kakek / nenek

d. Sikap orangtua yang dingin dan acuh tak acuh terhadap anak

e. Sikap orangtua yang kasar dan keras kepada anak

f. Campur tangan atau perhatian yang berlebih dari orangtua terhadap anak

g. Sikap atau kontrol yang tidak konsisiten, kontrol yang tidak cukup

Sebagaimana telah disebutkan di muka, maka anak / remaja yang dibesarkan dalam keluarga sebagaimana diuraikan di atas, maka resiko untuk berkepribadian anti soial dan berperilaku menyimpang lebih besar dibandingkan dengan anak / remaja yang dibesarkan dalam keluarga yang sehat / harmonis (sakinah).

Faktor Sekolah

Kondisi sekolah yang tidak baik dapat menganggu proses belajar mengajar anak didik, yang pada gilirannya dapat memberikan “peluang” pada anak didik untuk berperilaku menyimpang. Kondisi sekolah yang tidak baik tersebut, antara lain;

a. Sarana dan prasarana sekolah yang tidak memadai

b. Kuantitas dan kualitas tenaga guru yang tidak memadai

c. Kurikilum sekolah yang sering berganti-ganti, muatan agama/budi pekerti yang kurang

d. Lokasi sekolah di daerah rawan, dan lain sebagainya.

Faktor Masyarakat (Kondisi Lingkungan Sosial)

Faktor kondisi lingkungan sosial yang tidak sehat atau “rawan”, dapat merupakan faktor yang kondusif bagi anak/remaja untuk berperilaku menyimpang. Faktor masyarakat ini dapat dibagi dalam 2 bagian, yaitu pertama, faktor kerawanan masyarakat dan kedua, faktor daerah rawan (gangguan kamtibmas). Kriteria dari kedua faktor tersebut, antara lain:

a. Faktor Kerawanan Masyarakat (Lingkungan)

1) Tempat-tempat hiburan yang buka hingga larut malambahkan sampai dini hari

2) Peredaran alkohol, narkotika, obat-obatan terlarang lainnya

3) Pengangguran

4) Anak-anak putus sekolah/anak jalanan

5) Beredarnya bacaan, tontonan, TV, Majalah, dan lain-lain yang sifatnya pornografis dan kekerasan

b. Daerah Rawan (Gangguan Kantibmas)

1) Penyalahgunaan alkohol, narkotika dan zat aditif lainnya

2) Perkelahian perorangan atau berkelompok/massal

3) Kebut-kebutan

4) Pencurian, perampasan, penodongan, pengompasan, perampokan

5) Tindak kekerasan lainnya

6) Coret-coret dan lain sebagainya

Kondisi psikososial dan ketiga faktor diatas, merupakan faktor yang kondusif bagi perkembangan emosi remaja. Yang pada akhirnya akan mempengaruhi terhadap tingkah laku nya dalam kehidupannya di kemudian hari.

C. Pengaruh emosi terhadap tingkah laku

Keadaan emosi yang menyenangkan dan relaks berfungsi sebagai alat pembantu untuk mencerna, sedangkan perasaan tidak enak atau tertekan menghambat / menggangu pencernaan dalam berfikir. Gangguan emosi yang dapat menjadi penyebab kesulitan berbicara.

Reaksi setiap orang berbeda-beda terhadap orang yang dijumpainya, maka jika kita merespon dengan cara yang sangat khusus terhadap hadirnya individu-individu tertentu maka akan merangsang timbulnya emosi tertentu pula. Sikap takut, malu-malu atau agresif merupakan akibat dari ketegangan emosi atau frustasi dan dapat muncul dengan hadirnya individu-individu tertentu atau situasi-situasi tertentu. Sikap yang tidak menetu ini yang kemudian menjadi hal yang rawan dan akhirnya mudah sekali dipengaruhi, baik itu oleh orang lain atau oleh lingkungan sekitar tempat dia tinggal.

Sikap sosial remaja terutama yang berhubungan dengan proses sosialisasi dalam kelompok termanisfestasi dalam perilaku-perilaku sebagai berikut :

1. Kompetisi atau Persaingan

Persaingan dapat terjadi dalam kelompok yang biasanya berwujud persaingan yang sehat, tetapi dapat pula terjadi antar kelompok yang tidak sehat

2. Komformitas atau perilaku seragam

Kecenderungan peremajaan kea rah konformitas perilaku lebih banyak terlibat pada kelompok yang kurang terorganisir.

3. Menonjolkan diri atau menarik perhatian

Kecenderungan remaja untuk dapat membuktikan bahwa dirinya cukup berharga bagi kelompok merupakan dorongan utama pada perilaku untuk dapat menarik perhatian.

4. Menentang otoritas orang tua

Perilaku menentang otoritas orang tua dan orang dewasa lainnya yang dilakukan remaja, sering kali hanya dilandasi oleh rasa sekedar ingin berbeda dengan otoritas tersebut.

5. Kesadaran sosial

Sekalipun masih sering berbuat kesalahan, sebenarnya pada diri remaja telah tumbuh kesadaran akan perlunya saling memberi dan menerima dalam kehidupan bersama.

D. Masalah remaja dalam menghadapi perkembangannya

Masalah dalam proses sosialisasi pada remaja dapat disebabkan oleh beberapa faktor baik yang bersumber dari dirinya sendiri ataupun penyebab yang bersumber dari orang lain serta berbagai situasi dan kondisi sekitarnya. Secara rinci hambatan dalam bersosialisasi tersebut dapat di jelaskan dalam enam kategori sebagai berikut:

1. Pengalaman yang kurang menyenangkan

2. Kurang adanya bimbingan

3. tidak ada contoh yang baik

4. kurangnya kesempatan

5. tidak ada motivasi

6. Perbedaan norma sosial

Secara umum kehidupan social sangat berarti pada kehidupan kelompok remaja adalah hubungan dengan groupnya, hal ini tidak berarti bahwa lingkungan sosial yang lain dapat diabaikan begitu saja, karena kelompok remaja juga selalu berada dalam konteks masyarakat yang luas dan kompleks.

1. Remaja dan lingkungan sosialnya

Perkembangan kepribadian remaja merupakan hasil hubungan dan pengaruh timbale balik secara terus menerus antara pribadi dengan lingkungan social, karena merupakan sumber inspirasi yang dapat memberikan kekuatan fisik dan mental bagi mereka.

2. Hubungan remaja dengan orang tua

Dalam kehidupan berkeluarga seringkali muncul konflik antara orang tua dan anaknya yang menginjak remaja. Masalah yang dihadapi seringkali disebabkan oleh hambatan komunikasi antara kedua belah pihak.

3. Hubungan remaja, sekolah dan guru

masalah yang dihadapi remaja dengan sekolahnya biasanya kesulitan dalam menghadapi pelajaran disekolah, baik dalam lisan, tulisan maupun penyelesaian tugas.

4. Hubungan remaja dalam kehidupan kelompok

Kehidupan remaja dalam kelompoknya merupakan hal penting dalam kehidupan mereka karena mereka merasa diterima dan dihargai diantara teman sebayanya. Dan kelompok tersebut merupakan sumber yang dapat mengarahkan kecenderungan-kecenderungan yang kurang baik maupun yang baik.

ALTERNATIF PENYELESAIAN MASALAH

Memang sulit untuk menemukan cara terbaik didalam menanggulangi kenakalan remaja, tetapi masyarakat, perseorangan bahkan pemerintah sekalipun dapat melakukan langkah-langkah yang paling memadai di dalam melakukan tindakan pencegahan terhadap masalah tersebut.

Upaya-upaya tersebut dapat dapat dilakukan oleh berbagai lapisan yaitu :

1. Di dalam Keluarga

Pendidikan dalam keluarga adalah merupakan lingkungan pendidikan yang pertama dan utama bagi anak-anak dan remaja. Pendidikan keluarga lebih menekannkan pada aspek moral atau pembentukan kepribadian dari pada pendidikan untuk menguasai ilmu pengetahuan. Dasar dan tujuan pendidikan keluarga bersifat individual sesuai dengan pandangan hidup keluarga masing-masing.

ü Orang tua sebaiknya memposisikan dirinya dalam yang tidak lebih tinggi dari anak remaja dan tidak menggunakan otoritasnya secara berlebihan.

ü Orang tua sebaiknya menggunakan bahasa yang sama agar tidak menimbulkan kesalahpahaman dan tidak hanya memberikan informasi tetapi juga ikut serta memecahkan masalah yang dihadapi remaja

ü Meskipun masing-masing sibuk, baik orang tua dan anak, tetapi sebaiknya seringkali berkomunikasi dan meluangkan waktu untuk bersama dalam kondisi yang santai dan tidak formal.

ü Orang tua harus memberi kesempatan dan kebebasan anak untuk mengembangkan kreativitasnya serta mengemukakan ide secara bebas

ü Saling memahami dan menghargai setiap perbedaan pandangan pada suatu masalah.

2. Di dalam lingkungan Masyarakat

Masyarakat merupakan lingkungan alami yang kedua yang dikenal anak-anak. Kondisi masyarakat yang beragam, maka remaja harus memahami kondisi tersebut. Tidak jarang para remaja berbeda pandanagan dengan para orang tua sehingga norma dan perilaku remaja dianggap tidak sesuai dengan norma masyarakat yang berlaku. Keterlibatan masyarakat dalam menanggulangi kenakalan remaja juga sangat diperlukan, keterlibatan tersebut dapat berupa :

ü Menciptakan kondisi masyarakat yang aman, nyaman dan menghilangkan tempat-tempat yang dapat menciptakan kondisi yang buruk.

ü Memberi nasihat secara langsung kepada anak yang bersangkutan agar anak tersebut meninggalkan kegiatannya yang tidak sesuai dengan norma yang berlaku, yakni norma hukum, sosial, susila dan agama

ü Membicarakan dengan orang tua anak yang bersangkutan dan dicari jalan keluarnya untuk menyadarkan anak tersebut.

ü Masyarakat harus berani melaporkan kepada pejabat yang berwenang tentang adanya perbuatan-perbuatan dan tempat yang bisa melanggar norma-norma sehingga segera dilakukan langkah-langkah pencegahan secara menyeluruh agar hal-hal yang melanggar norma-norma tersebut tidak sampai mempengaruhi remaja.

3. Di dalam lingkungan Sekolah

Sekolah merupakan wahana untuk mempersiapkan remaja memasuki dunia pekerjaan dan mempersiapkannya menduduki posisi jabatan tertentu, sehingga tuntutan dalam sosialisasi pada kelompok ini juga di sesuaikan dengan misi dari sekolah tersebut yaitu : tuntutan untuk punya prestasi akademik yang tinggi akan menjamin popularitas anak dalam lingkungan sekolah. Untuk dapat mencapai ini remaja dituntut untuk melaksanakan semua kewajibannya sebagai pelajar disamping ditunjang oleh potensi dasar yang dimiliki.

Keterlibatan lingkungan sekolah dalam menghadapi permasalahan remaja diantaranya :

ü Dalam proses belajar mengajar, pelajar di perlakukan sebagai individu yang berharga dimana suaranya didengar oleh guru agar ia merasa bahwa dirinya dikenal.

ü Belajar dalam kelompok remaja dapat lebih mudah bila adanya keseimbangan antara pembatasan dan otoritas dengan pemberian kebebasan yang bertanggung jawab dengan pengembangan kreativitas anak.

ü Guru harus memahami keberadaan remaja dengan berbagai kelebihan dan kekurangan yang mereka miliki sehingga remaja merasa aman dalam proses pembelajaran.

ü Pengembangan kepercayaan diri dan pemberdayaan bimbingan konseling di sekolah sangat membantu motivasi siswa dalam belajar.

ü Para pelajar lebih aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler dan pihak sekolah menyediakan fasilitas untuk kegiaan kurikuler tersebut agar siswa mempunyai kegiatan yang lebih padat sehingga tidak ada lagi waktu untuk dia berada di lingkungan yang salah dan melakukan perbuatan yang tidak bermanfaat.

4. Pemerintah

Pemerintah juga sangat penting keterkaitannya dalam menanggulangi dan mencegah terjadinya kenakalan remaja. Pemerintah dapat mengambil langkah-langkah sebagai berikut:

ü Memperbaiki kehidupan warga masyarakat agar di bidang social ekonomi mengalami peningkatan, dan pengangguran dapat teratasi hal ini penting karena semakin sedikit pengangguran maka akan semakin berkurang hal-hal negative yang dilakukan masyarakat yang dapat mempengaruhi remaja

ü Pemerintah melakukan penyensoran film-film dan lebih menitik beratkan pada film-film yang bersifat mendidik

ü Mengadakan pengawasan terhadap peredaran buku-buku, komik, majalah, pemasangan iklan dan sebagainya.

ü Mengadakan ceramah melalui radio, televise maupun melalui media-media lain mengenai pendidikan pada umumnya.

ü Mengadakan sosialisasi dan penyuluhan terhadap bahaya-bahaya penyimpangan sosial. Misalnya penyuluhan akibat penggunaan narkoba, bahaya pergaulan bebas dan akibat yang ditimbulkannya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: