Posted by: Andi Taufiq | April 18, 2009

Idiologi dan Pancasila

IDEOLOGI

A. Pengertian Ideologi

Ideology berasal dari kata idea yang berarti gagasan, konssep, pengertian dasar, cita-cita sedang logos berarti Ilmu. Secara harfiah ideology berarti ilmu tentang pengertian dasar, ide dalam pengertian sehari-hari. Idea disamakan artinya dengan cita-cita. Cita-cita yang dimaksud adalah cita-cita yang bersifat tetap yang harus dicapai sehingga sita-sita itu sekaligus merupakan dasar, pandangan/paham.

Hubungan manusia dengan cita-citanya disebut ideology. Ideology berisi seperangkat nilai, dimana nilai-nilai itu menjadi cita-citanya / manusia bekerja dan bertindak untuk mencapai nilai-nilai tersebut.

Ideology yang pada mulanya berarti gagasan dan cita-cita berkembang secara luas menjadi suatu paham mengenai seperangkat nilai / pemikiran yang dipegang oleh seorang atau sekelompok orang untuk menjadi pegangan hidup. Berikut diberikan beberapa pengertian ideology :

a. Patrick Corbett menyatakan ideology sebagai setiap struktur kejiwaan yang oleh seperangkat keyakinan mengenai penyelenggaraan hidup bermasyarakat beserta pengorganisasiannya. Seperangkat keyakinan mengenai sifat hakikat manusia & alam semesta yang ia hidup didalamnya suatu pernyataan pendirian bahwa kedua perangkat keyakinan tersebut independent, dan suatu dambaan agar keyakinan-keyakinan tersebut dihayati dan pernyataan pendirian itu diakui sebagai kebenaran oleh segenap orang yang menjadi anggota penuh dari kelompok social yang bersangkutan.

b. A.S Hornby menyatakan bahwa ideology adalah seperangkat gagasan yang membentuk landasan teori ekonomi & politik atau yang dipegangi oleh seseorang / sekelompok orang.

c. Soejono Soemargono meyatakan secara umum “ideology” sebagai kumpulan gagasan, ide, keyakinan, kepercayaan yang menyeluruh dan sistematis yang menyangkut bidang :

1. politik

2. social

3. kebudayaan dan

4. agama

d. Gunawan Setiardja merumuskan ideology sebagai seperangkat ide asasi tentang manusia & seluruh realitas yang dijadikan pedoman dan cita-cita hidup.

e. Frans Magnis Suseno megatakan bahwa ideology sebagai suatu system pemikiran dapat dibedakan menjadi ideology tertutup dan ideology terbuka :

1. Ideologi tertutup, merupakan suatu system pemikiran tertutup, ideology ini mempunyai ciri sebagai berikut :

merupakan cita-cita suatu kelompok orang untuk mengubah dan memperbarui masyarakat.

Atas nama ideology dibenarkan pengorbanan-pengorbanan yang dibebankan kepada masyarakt.

Isinya bukan hanya nilai-nilai dan cita-cita tertentu, melainkan terdiri dari tuntutan-tuntutan konkrit dan operasional yang keras yang diajukan dengan mutlak.

2. ideology terbuka, merupakan suatu pemikiran yang terbuka. Ideology terbuka mempunyai cirri-ciri sebagai berikut :

bahwa nilai-nilai dan cita-citanya tidak dapat dipaksakan dari luar melainkan digali dan diambil dari moral, budaya masyarakat itu sendiri.

Dasarnya bukan keyakinan ideologis sekelompok orang melainkan hasil musyawarah dari consensus masyarakat tersebut.

Nilai-nilai itu sifatnya dasar, secara garis besar saja sehingga tidak langsung operasional.

Ada dua fungsi utama ideology dalam masyarakat (Ramlan Subekti, 1999) pertama sebagai tujuan atau cita-cita yang hendak dicapai secara bersama oleh suatu masyarakat, kedua sebagai pemersatu masyarakat & karenanya ssebagai prosedur penyelesaian konflik yang terjadi di masyarakat. Dalam kaitannya dengan yang pertama, nilai dalam ideology itu menjadi cita-cita atau tujuan dari masyarakat. Tujuan hidup bermasyarakat adalah untuk mencapai terwujudnya nilai-nilai dalam ideology itu. Dalam kaitannya yang kedua nilai dalam ideology itu merupakan nilai yang disepakati bersama sehingga dapat mempersatukan masyarakat itu, serta nilai bersama tersebut dijadikan acuan bagi penyelesaian suatu masalah yang mungkin timbul dalam kehidupan masyarat yang bersangkutan.

B. Landasan dan makna Pancasila sebagai ideology Bangsa

Adapun makna pancasila sebagai ideology nasional menurut ketetapan tersebut adalah bahwa niai-nilai yang terkandung dalam ideology Pancasila menjadi cita-cita normative penyelenggaraan bernegara. Secara luas dapat diartikan bahwa visi atau arah dari penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia adalah terwujudnya kehidupan yang berketuhanan, yang berkemanusiaan, yang berpersatuan, yang berkerakyatan dan yang berkeadilan.

Pancasila sebagai ideology nasional yang berfungsi sebagai cita-cita adalah sejalan dengan fungsi utama dari sebuah ideology. Sebagaimana dinyatakan diatas. Adapun fungsi lain ideology Pancasila sebagai sarana pemersatu masyarakat sehingga dapat dijadikan prosedur penyelaian konflik, dapat kita telusuri dari gagasan para pendiri Negara kita tentang pentingnya mencari nilai-nilai bersama yang dapat mempersatukan berbagai golongan masyarakat di Indonesia.

Banyak pihak telah sepakat bahwa Pancasila sebagai ideology nasional merupakan titik temu, rujukan bersama, kesepakatan bersama dan nilai integrative bagi bangsa Indonesia. Kesepakatan bersama bahwa Pancasila adalah ideology nasional inilah yang harus terus kita pertahankan dan tumbuh kembangkan dalam kehidupan bangsa yang plural ini.

Berdasarkan uraian diata, Pancasila sebagai ideology nasional Indonesia memiliki makna sebagai berikut :

1. nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila menjadi cita-cita normative penyelenggaraan bernegara.

2. nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila merupakan nilai yang disepakati bersama dan oleh karena itu menjadi salah satu sarana pemersatu (integrasi) masyarakat Indonesia.

C. Hakekat dan Fungsi Ideologi

Pada dasarnya ideology adalah hasil refleksi manusia berkat kemampuannya mengadakan distansi terhadap dunia kehidupannya. Antara ideology & kenyataan hidup masyarakat terjadi hubungan dialektis, sehingga berlangsung pengaruh timbal balik yang terwujud dalam interaksi yang disatu pihak memacu ideology makin realistis & di lain pihak mendorong masyarakat makin mendekati bentuk yang ideal. Ideology mencerminkan cara berfikir masyarakat, namun juga membentuk masyarakat menuju cita-cita. Dengan demikian terlihatlah bahwa ideology bukanklah sekedar pengetahuan teoritis belaka, tetapi merupakan sesuatu yang dihayati menjadi suatu keyakinan. Ideology adalah satu pilihan yang jelas membawa komitmen untuk mewujudkannya. Semakin mendalam kesadaran ideologis seseorang akan berarti semakin tinggi pula rasa komitmennya untuk melaksanakannya.

Beberapa fungsi ideology :

  1. struktur kognitif, ialah keseluruhan penggetahuan yang dapat merupakan landasan untuk memahami & menafsirkan dunia & kejadian-kejadian dalam alam sekitarnya.
  2. orientasi dasar dengan membuka wawasan yang memberikan makna serta menunjukkan tujua dalam kehidupan manusia.
  3. norma-norma yang menjadi pedoman & pegangan bagi seseorang untuk melangkah dan bertindak
  4. bekal dan jalan bagi seseorang untuk menemukan identitasnya.
  5. kekuatan yang mampu menyemangati & mendorong seseorang untuk menjalankan kegiatan & mencapai tujuan.
  6. pendidikan bagi seseorang atau masyarakat untuk memahami, menghayati serta memolakan tingkah lakunya sesuai dengan orientasi & norma-norma yang terkandung di dalamnya.

Perbedaan pengertian-pengertian ideology dengan pandangan hidup adalah sebetulnya pandangan hidup juga memberikan orientasi dalam kehidupan manusia. Pandangan hidup tumbuh bersama kebudayaan dalam bentuk yang sederhana dan umum. Masyarakat biasapun memiliki semacam pandangan hidup yang menunjukkan tatanan bagi segala sesuatu yang berada dalam bumi ini. Namun disbanding ideology, pandangan hidup memberikan orientasi secara global dan tidak bersifat eksplisit, lebih terarah kepada kesseluruhan system masyarakat dalam berbagai aspeknya, dan dilakukan dengan cara dan penjelasan yang lebih logis dan sistematis. Oleh karena itu ideology lebih siap menghadapi jaman modern dengan kemajuan ikmu & teknologi. Walaupun demikian dapat terjadi bahwa pandangan hidup menjadi ideology. Ini berarti perlu dilakukan eksplisitasi lebih lanjut dari prinsip-prinsip dasarnya kedalam kondisi hidup yang modern dan membersihkannya dari unsure-unsur negative, agar mampu memberikan orientasi yang jelas dalam mencapai tujuan dan memecahkan masalah-masalah yang dihadapi.

D. Perwujudan Ideologi Pancasila sebagai cita-cita bernegara

Perwujudan Pancasila sebagai ideology nasional yang berarti menjadi cita-cita penyelenggaraan bernegara terwujud melalui ketetapan MPR NO. VII/MPR/2001 tentang visi Indonesia di masa depan terdiri dari tiga visi yaitu :

  1. Visi ideal, yaitu cita-cita luhur sebagaimana termaktub dalam pembukaan UUD Negara RI tahun 1945 yaitu pada alinea keempat.
  2. Visi antara yaitu visi Indonesia 2020 yang berlaku sampai dengan tahun 2020
  3. Visi lima tahunan, sebagaimana termaktub dalam Garis-garis Besar Haluan Negara.

Pada Visi antara dikemukakan bahwa visi Indonesia 2020 adalah terwujudnya masyarakat Indonesia yang religius, manusiawi, bersatu, demokratis, adil sejahtera, maju & mandiri, serta baik dan bersih dalam penyelenggaraan Negara. Untuk mengukur tingkat keberhasilan perwujudan visi Indonesia 2020 dipergunakan indicator-indikator utama sebagai berikut :

  1. religius
  2. manusiawi
  3. bersatu
  4. demokratis
  5. adil
  6. sejahtera
  7. maju
  8. mandiri
  9. baik dan bersih dalam penyelenggaraan Negara

Mewujudkan bangsa yang religius, manusiawi, bersatu, demokratis, adil dan sejahtera pada dasarnya adalah upaya menjadikan nilai-nilai Pancasila sebagai cita-cita bersama. Sebagai suatu cita-cita, nilai-nilai Pancasila diambil dimensi idealismenya sebagai nilai-nilai ideal, penyelenggara Negara hendaknya berupaya bagaimana menjadikan kehidupan bernegara Indonesia ini semekin dekat dengan nilai-nilai ideal tersebut.

Perwujudan Pancasila sebagai kesepakatan / nilai integrative bangsa adalah sebagai pemersatu dan prosedur penyelesaian konflik perlu juga dijabarkan dalam praktik kehidupan bernegara. Pancasila sebagai sarana pemersatu dalam masyarakat dan prosedur penyelesaian konflik itulah yang terkandung dalam nilai integrative Pancasila.Pancasila sudah diterima oleh masyarakat Indonesia sebagai sarana pemersatu artinya sebagai suatu kesepakatan bersama bahwa nilai-nilai yang terkandung di dalamnya disetujui sebagai milik bersama.

Kedudukan nilai social bersama dimasyarakat untuk menjadi sumber normative bagi penyelesaian konflik bagi para anggotanya adalah hal penting. Masyarakat membutuhan nilai bersama untuk dijadikan acuan manakala konflik antar anggotanya terjadi. Pertentangan dan perbedaan dapat didamaikan dengan cara para pihak berseteru menyetujui dan mendasarkan pada sebuah nilai bersama. Dengan demikian integrasi dalam masyarakat dapat dibangun kembali. Nilai-nilai Pancasila hendaknya mewarnai setiap prosedur penyelesaian konflik yang ada di masyarakat. Secara normative dapat dinyatakan sebagai berikut, bahwa penyelesaian suatu konflik hendaknya dilandasi oleh nilai-nilai religius, menghargai derajat kemanusiaan, mengedepankan perstuan mendasarkan pada prosedur demokrattis dan berujung pada terciptanya keadilan.

E. Tahapan kesadaran Ideologi

Tiga tahapan kesadaran ideology adalah sebagai berikut :

1. Pancasila sebagai ideology Persatuan

Salah satu peranan Pancasila yang menonjol sejak permulaan penyelenggaraan Negara RI adalah fungsinya dalam mempersatukan seluruh rakyat Indonesia menjadi bangsa yang berkepribadian & percaya pada diri sendiri. Seperti kita ketahui, kondisi masyarakat sejak permulaan hidup kenegaraan adalah serba majemuk . masyarakat Indonesia bersifat multi etnis, multi religius & multi ideologis. Kemajemukan tersebut menunjukkan berbagai unsure yang saling berinteraksi. Berbagai unsure tersebut dapat memperkaya khasanah budaya untuk membangun kekuatan, tetapi sebaliknya dapat juga memperlemah kekuatan bangsa dengan berbagai perselisihan. Dalam konteks inilah Pancasila dipersiapkan sebagai ideology persatuan. Pancasila diharapkan mampu memberikan jaminan akan perwujudan misi politik tersebut, dimana masing-masing kekuatan social masyarakat merasa terikat & ikut bertanggungjawab atas masa depan negaranya.

2. Pancasila sebagai Ideologi Pembangunan

Dalam GBHN khususnya GBHN 1988 menekankan bahwa pembangunan merupakan pengamalan Pancasila. Ini berarti bahwa dimensi Pancasila harus tetap diperhatikan sebagai nilai-nilai dasar, sehingga Pancasila memberikan pedoman yang jelas & mengikat bagi pembagunan, yaitu baik dalam mempersepsikan pembangunan, maupun dalam mengambil kebijaksanaan serta langkah untuk melaksanakan pembangunan.

3. Pancasila sebagai Ideologi Terbuka

Untuk menjawab tantangan dikalangan masyarakat dunia, Pancasila perlu tampil asebagai ideology terbuka, karena ketertutupan hanya membawa kepada kemandegan. Keterbukaan bukan berarti mengubah nilai-nilai dsar Pancasila, tetapi mengeksplisitkan wawasannya secara lebih konkrit, sehingga memiliki kemampuan yang lebih tajam untuk memecahkan masalah-masalah baru. Suatu ideology adalah terbuka sejauh tidak dipaksakan dari luar, tetapi terbentuk justru atas kesepakatan masyarakat, sehingga merupakan milik masyarakat. Dalam ideology terbuka terdapat cita-cita & nilai-nilai yang bersifat mendasar. Kekuatan ideology terbuka adalah memiliki sifat yang dinamis & tidak akan membeku.


Responses

  1. makasih om andi-pr gue beres
    rivadotaku.blogspot.com


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: